Sekilas Review 100 Hari Jokowi Menjabat Gubernur DKI dari @Janes_CS

Berikut ini adalah rangkaian tweet dari reporter stasiun TV berita yang bertugas meliput Jokowi selama masa jabatan beliau sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 100 hari pertama sejak 15 Oktober 2012. Ia adalah Janes C. Simangunsong di @janes_cs. Selamat membaca…

Read more of this post

Advertisements

April 29th

Hey, it’s April 29th 2011 already. It’s remembering me of today, on a year ago. April 29th 2010. It’s been a year…

29 of April will always be a special day for me.

It’s when #TWITALK ran the first show. Pungkas was interviewing Triawan Munaf.

But, several hours before #TWITALK was showing, I had a great moment with La Tania Finanda Phillipe Putri.

Okay, here’s the story…

Previous days before 29 of April, I got an invitation from Tania to watch Efek Rumah Kaca at her campus. Efek Rumah Kaca (or we usually call them as ERK) is a pop minimalist band that we both like. I was honored to have that invitation, because Tania only got 2 tickets from the event organizer. And she decided and chose me to accompany her to attend it. I didn’t know the reason why, most likely because we both like the band, perhaps. But the point is, I was flattered and felt honored!

That was cloudy Thursday in the afternoon. I drove my motorcycle to Depok, the small yet crowded city where University of Indonesia is located. “Off to FIB UI Depok. Bismillah…” I tweeted at 3:27 PM that day.

In the middle of the journey -no, not the middle, it was still nearby my house- the rain was pouring down! “Trapped in one of the carpenter workshop at Bintaro. Sacrament album’s accompanying me waiting for the heavy rain with thunder and lightning,” I tweeted again at 4:08 PM that day.

I faced a very bad traffic during my travel. Especially on Tb. Simatupang road. I was really pissed off with the traffic. But I finally arrived at UI At 6:15 PM. The feeling was so happy, even though my pants a little bit got wet. Didn’t mind it, though. Read more of this post

Rape Is Not A Joke…

Do you know people who went through rape are called survivors not victims? Survivor because to survive to go through the “horror” moment they experienced is not an easy thing.

Do you know rape survivors carry their scars for life?

Do you know rape survivors experience nightmares even years after?

Do you know that rape is the WORST abuse anyone can experience? Because it’s not only severing the physical but also mental and dignity.

Do you know that rape is one of the most difficult traumas to be treated?

Do you know rape survivors experience terrible guilt because they felt helpless and unable to defend themselves?

Do you realize that rape is not something you can just fucking joke about? Read more of this post

Bedah “Mati Rasa”

Biarlah aku berdansa dengan kesunyian.
Menyatu dalam setiap melodinya.
Menyiratkan makna dalam sebuah gerakan.
Terbuai dalam tiap nadanya.
Sehingga menidurkanku dalam suara tangis yang menusuk setiap nadi seorang hawa.
Membuat enggan terbangun dari mimpi.

Menutup mata untuk melihat nyata.
Sampai yang telah mati kembali hidup.
Sampai yang hambar kembali berasa.
Menutup semua kemungkinan pahit untuk bertemu itu kembali.
Kembali mendendangkan lagu-lagu yang berasal dari rindu.
Menginginkan sebuah pelukan yang berasal dari sebuah kemurnian. Bukan emosi.
Biarkan angin memelukku dengan emosinya.
Biarkan hujan membelaiku dengan emosinya…
Sehingga aku terlupa dengan nyata dan kembali menutup mata.

Biarkan saja dia mati rasa.
Biarkan saja kram menyentuhnya.
Sampai suatu massa menyentuh sang takdir…

Puisi yang bagus. Dan berat, bagi saya.
Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa sedikit memahami apa maknanya. Itupun belum tentu benar.
Pemahaman saya terhadap karya sastra tidak begitu bagus, malah bisa dikatakan buruk.
Sama halnya seperti penulis puisi di atas dalam memahami eksakta dan matematika.

Saya menyukai kata demi kata, kalimat demi kalimat pada puisi tersebut.
Sang penulis berusaha untuk menceritakan sesuatu dengan alur yang berirama jelas.
Saya pun jadi tertarik ingin mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Katanya, puisi tersebut adalah tentang dirinya. Tentang apa yang ia alami.

Ini yang agak sulit. Untuk bisa memahami puisi tersebut, berarti harus bisa memahami sang penulis itu sendiri.

Read more of this post

Tania Call 911

Somebody call 911
Shawty fire burning on the dance floor
Whoa
I gotta cool her down
She won’t bring the roof to ground on the dance floor
Whoa
Shes fire burning, fire burning on the dance floor
That little shawtys fire burning on the dance floor
Shes fire burning fire burning on the dance floor
That little shawtys fire burning on the dance floor
Fire burning fire burning

As you guys know, it’s a song lyrics of Somebody Call 911 Fire Burning by Sean Kingston. So, what the heck happens to that song?

First, let me re-introduce you to La Tania Finanda Phillipe Putri. She’s a China Literature college student in University of Indonesia.
She’s currently undergoing for student-exhange in Tianjin, China, after she had done her sophomore in University of Indonesia.

Tania, the name that she suggested me for calling her, has already been there for more than a month, since 27th of June . And about 2 weeks more to come back to Indonesia.

Right now, while I’m writing this blog, am chatting with her too on Yahoo! Messenger.
She buzzed me when I was just online. She told me that couple hours ago the Fuyuwan Fuwuyuan (maid) knocked her room and informed her that there will be no water for tomorrow.

Following that bad news, she won’t be showering tomorrow, whereas, she went to class room without taking a bath this morning.
So, you guys can imagine how stinky she is… Hihihi… :D

Read more of this post

Imperfection

Sudah lebih dari satu jam saya duduk di sini. Sekarang tepat pukul 02:18 WIB ketika saya mengetik blog ini.

Hari ini tanggal 26 Juli 2010. Silakan cek kalender, kalian akan lihat ada huruf M yang tertera untuk hari ini. Huruf yang tidak disukai oleh kebanyakan orang sibuk.

Yes, it is. It’s Monday early morning. Di saat mereka sedang tertidur lelap, –yang beberapa jam sebelumnya berdoa agar bisa bangun sangat pagi supaya tidak ketinggalan kereta, terjebak macet, atau terlambat hadir di ruang rapat– saya justru duduk manis menunggu pagi.

Sebetulnya saya tidak berencana datang ke tempat ini kalau saja perut saya bisa sedikit diajak berkompromi.

Jam 11 malam tadi saya terbangun. Ya, terbangun dari tidur ‘kepagian’ yang tidak diinginkan. Melihat Blackberry saya dalam keadaan mati, saya langsung mengambil charger dan mengisi ulang beterenya.

Setelah kembali nyala, saya dikagetkan dengan banyaknya pesan masuk di Blackberry Messenger. Broadcast Message dari orang-orang. Isinya sama. Minta maaf menjelang masuknya bulan Ramadhan. Modal copy-paste.

Tidak ada satupun yang saya balas. Dan tidak perlu juga saya berikan alasannya di sini. :)

Pesan lain datang dari @digiskaga. Dia bilang: “besok gimana?”.

Read more of this post