#TWITALK on Media Indonesia

#TWITALK's CREWS AND FRIENDS

TWITALK

BERCAKAP-CAKAP DI TWITALK

Ketika sebuah talk show dikemas dalam 140 karakter, pemanfaatan Twitter tak
sebatas untuk pertemanan saja, tapi juga bisa untuk mengenal berbagai tokoh atau
figur publik secara lebih dekat.

ADA ritual wajib yang dilakukan PancaSyah, Tessi Fathia, dan Pungkas Riandika tiap Kamis pukul 21.00 waktu setempat. Layaknya sebuah tim produksi di stasiun televisi, mereka siap mengawal sebuah acara live talk show yang hadir saban minggu. Bedanya, interaksi tanya jawab ini tak berlangsung dalam pertemuan tatap muka atau dialog radio, tetapi hadir di ranah digital dalam format teks 140 karakter. Dengan nama Twitalk, talk show dihadirkan secara live dari akun @TwitalkID, yang didaulat sebagai pembawa acara.

Adapun narasumber merupakan figur publik yang sekaligus pengguna Twitter. Rutinitas live talk show itu dimulai beberapa saat sebelum pukul 21.00. PancaSyah akan bersiap di depan komputer, menjadi seseorang maestro di balik akun @TwitalkID. Tugasnya cukup merepotkan. Selain memberikan pertanyaan kepada narasumber lewat tweet, ia wajib memantau mention dari berbagai peserta talk show menit demi menit, tanpa boleh ada yang luput tak terbaca. Maklum, dalam konsep Twitalk, pertanyaan tidak disusun secara utuh. Dari 10 pertanyaan yang diajukan, hanya empat yang dipersiapkan tim produksi. Sisanya pertanyaan pilihan yang diajukan peserta yang mengikuti talk show ini. “Jadi seperti seorang pembawa acara, ia harus fokus bertanya kepada narasumber. Tapi di saat yang bersamaan harus mendengarkan semua pertanyaan yang keluar dari para
peserta,” jelas Pungkas, salah seorang penggagas Twitalk.

Walau interaksi hanya dilakukan pada layar komputer, Panca mengaku grogi tiap kali beraksi. “Saya ingat, waktu pertama kali jadi admin, rasanya tegang banget. Karena prosesnya kan sangat bergantung dengan koneksi internet,” katanya. Karena tak selalu di rumah, Panca bisa memoderatori talk show di mana saja. Biasanya, ia mampir ke kafe untuk membuka internet
lewat laptop di sela perjalanan pulang. “Paling apes ya kalau lagi di jalan, saya cuma bisa pakai ponsel. Kalau koneksinya lagi jelek, terpaksa deh minta di-back up dulu,” curhatnya.

Panca memang tak kerja sendiri. Pungkas yang berada di Yogyakarta dan Tessi di Jakarta siap memantau Twitalk lewat ponsel di mana pun mereka berada. Mereka bertugas memberi masukan kepada Panca tentang pertanyaan mana yang boleh dipilih, dan mana yang tidak. “Kadang 10 pertanyaan itu diperoleh dari peserta. Kadang juga dari kita. Prinsipnya adalah bagaimana membuat rangkaian pertanyaan itu bisa menggambarkan sisi lain dari si tokoh,” kata Tessi.

Twitalk yang pertama kali muncul pada 28 April 29 April 2010 itu telah menghadirkan 55 tokoh seperti Indro Warkop, Becky Tumewu, Alanda Kariza, Bambang Pamungkas, dan Aditya Sofyan. Walau beberapa merupakan fi gur publik yang cukup terkenal, tak jarang mereka juga menghadirkan tokoh-tokoh baru yang belum banyak dikenal. Khusus pada pemilihan narasumber ini, Pungkas dan Tessi didaulat untuk menentukannya. Mereka harus putar otak untuk menimbang apakah narasumber yang ditampilkan akan membawa manfaat. “Kita lebih suka untuk menghadirkan orang-orang hebat yang belum banyak dikenal. Dengan begitu mereka bisa berbagi banyak hal dengan kita. Kalaupun kita mengundang figur publik terkenal, kita selalu berusaha untuk mencari sisi lain dari orang itu,” kata Pungkas.

DISKUSI: Komunitas Twitalk berkumpul saat acara diskusi Walk the Talk #The First Twitalk Anniversary di Jakarta, beberapa waktu lalu. Komunitas ini mengubah talk show seperti di televisi menjadi format digital

Lahir dari Percakapan Maya

Dalam sesi bersama Bondan Winarno, misalnya, Twitalk lebih sering membahas keterlibatan Bondan di dunia periklanan dan koleksi botol kecapnya daripada urusan masak-memasak. “Karena itu, tiap minggu kita memang harus riset. Juga harus pintar menyesuaikan dengan hal yang lagi diperbincangkan sekarang. Agak menyulitkan, tapi sebetulnya menyenangkan karena kita melakukannya dengan santai,” kata Tessi. Bagi Tessi, Twitalk hadir sebagai sebuah jembatan bagi para pengguna Twitter yang ingin mengenal lebih jauh seorang tokoh. “Twitalk bisa mendekatkan orang biasa dengan tokoh pujaan. Karena kadang, tokoh-tokoh ini karena banyak follower-nya tidak bisa melayani semua mention yang masuk ke akunnya,” kata perempuan yang bekerja dalam bidang periklanan itu.

Aturan main dalam interview pun cukup sederhana. Sehari sebelum acara dimulai, Twitalk akan mengumumkan satu nama tokoh yang akan diajak berbincang. Twitalk juga akan melayangkan permohonan interview kepada sang narasumber. “Kita tidak bisa memaksa. Kalau memang tidak dibalas atau orangnya kebetulan tidak bisa, kita cari alternatif lain,” kata Pungkas. Agar bisa menikmati interview ini, pengguna juga harus mengikuti akun sang narasumber. Atau, mereka bisa juga mengklik hashtag #TWITALK. Namun tak seperti acara talk show yang dibatasi durasi, Twitalk tak memiliki batas waktu. “Kadang bisa selesai cepat. Tapi bisa juga selesainya malam banget. Pernah waktu kita interview Bambang Pamungkas, interview-nya selesai jam 1 malam karena antusiasmenya tinggi,” kata Pancasyah. (M-1)

PERCAYA atau tidak, gagasan dan proses terbentuknya konsep Twitalk sepenuhnya terjadi dalam percakapan di Twitter. Saat itu, Pungkas Riandika merasa bosan dengan media sosial tersebut. “Interaksi hanya terjadi dalam lingkaran pertemanannya. Tidak bisa sentuh yang lain. Padahal tiap orang di media sosial memiliki hubungan yang sederajat, banyak hal yang bisa digali dan dibagi daripada hanya berputar dalam lingkaran yang sama,” katanya. Kebosanan itu lantas direspons beberapa orang yang terjalin dalam lingkaran followernya di Twitter. Dari situ, banyak usulan masuk dan terciptalah Twitalk. Bagi Pungkas, ada dua hal yang menjadi makna penting di balik lahirnya Twitalk. Pertama, Twitalk bisa menjembatani orang-orang yang butuh ilmu dengan orang-orang pintar dalam media sosial. Kedua, Twitalk bisa membuktikan bahwa jejaring ini bisa sangat bermanfaat asal kita bisa menggunakannya dengan baik.

“Kebetulan saat itu lagi ramai tentang blokir situs pornografi . Internet sehat jadi salah satu isu penting di dunia maya,” kata Pungkas, yang berprofesi sebagai freelancer periklanan itu. Selain hadir dalam platform Twitter, Twitalk kini hadir dalam sebuah situs twitalk.co.id, yang dipergunakan sebagai catatan kegiatan dan transkrip wawancara tiap episode. Pengurus Twitalk pun akhirnya bertambah besar dengan bergabungnya Herlina dan Ibnu Aziz yang rajin mengurus situs tersebut. Bagi Pungkas, ide tentang live interview di dunia maya ini tidak hanya terbatas pada jejaring Twitter. “Ini hanya masalah platform yang dipakai. Kalau Twitter sudah ditutup, misalnya, kita tidak akan mati karena ada banyak platform yang bisa digunakan di dunia maya,” katanya. Sebagai tindak lanjut dari Twitalk, mereka juga telah mengadakan kopi darat. Tepat setahun sejak Twitalk berdiri, mereka mengadakan acara gathering yang mempertemukan para follower dengan narasumber yang pernah hadir di Twitalk. (CE/M-1)

 

Dari kolom POP KOMUNITAS Hal. 30 harian Media Indonesia Jum’at, 26 Agustus 2011 oleh Christine Franciska.

Advertisements

About pancasyah
There will be the time I've been the person you want to talk with, but end up being the person you want to talk about. | An introverted expressionist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: