Bedah “Mati Rasa”

Biarlah aku berdansa dengan kesunyian.
Menyatu dalam setiap melodinya.
Menyiratkan makna dalam sebuah gerakan.
Terbuai dalam tiap nadanya.
Sehingga menidurkanku dalam suara tangis yang menusuk setiap nadi seorang hawa.
Membuat enggan terbangun dari mimpi.

Menutup mata untuk melihat nyata.
Sampai yang telah mati kembali hidup.
Sampai yang hambar kembali berasa.
Menutup semua kemungkinan pahit untuk bertemu itu kembali.
Kembali mendendangkan lagu-lagu yang berasal dari rindu.
Menginginkan sebuah pelukan yang berasal dari sebuah kemurnian. Bukan emosi.
Biarkan angin memelukku dengan emosinya.
Biarkan hujan membelaiku dengan emosinya…
Sehingga aku terlupa dengan nyata dan kembali menutup mata.

Biarkan saja dia mati rasa.
Biarkan saja kram menyentuhnya.
Sampai suatu massa menyentuh sang takdir…

Puisi yang bagus. Dan berat, bagi saya.
Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa sedikit memahami apa maknanya. Itupun belum tentu benar.
Pemahaman saya terhadap karya sastra tidak begitu bagus, malah bisa dikatakan buruk.
Sama halnya seperti penulis puisi di atas dalam memahami eksakta dan matematika.

Saya menyukai kata demi kata, kalimat demi kalimat pada puisi tersebut.
Sang penulis berusaha untuk menceritakan sesuatu dengan alur yang berirama jelas.
Saya pun jadi tertarik ingin mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Katanya, puisi tersebut adalah tentang dirinya. Tentang apa yang ia alami.

Ini yang agak sulit. Untuk bisa memahami puisi tersebut, berarti harus bisa memahami sang penulis itu sendiri.


Coba saya mulai dari bait pertama…
Pada bait ini penulis nampak sedang dalam situasi yang membuatnya merasa kesepian. Situasi yang sunyi.
Dalam tiap kalimat, ia terlihat sangat pasrah pada keadaan saat itu.
Keadaan yang membuatnya ingin selalu tertidur. Tertidur sambil menangis karena kesepian.

Bait kedua…
Bagi penulis, kenyataan adalah di dalam mimpi.
Mungkin maksudnya seperti membiarkan diri terjebak di dalam Limbo pada film Inception?
Penulis akan terus bermimpi sambil menunggu sesuatu untuk kembali ‘hidup’ dan ‘berasa’.
Karena pada keadaan sadarnya, ia akan mungkin bertemu sesuatu yang tidak ia inginkan.

Masih di bait kedua…
Penulis sedang galau dalam kerinduan. Ia terlihat bimbang.
Saat itu ia menginginkan sebuah ‘pelukan’ dan ‘belaian’ yang tulus, bukan dari emosi.
Tapi di waktu yang sama, ia membiarkan dirinya tunduk oleh emosi.
Hingga penulis lupa pada kenyataan (yang ada di dalan mimpi) kemudian kembali menutup mata.
Bermimpi dalam mimpi? Dreaming level two?

Bait terakhir…
Biarkan saja dia mati rasa. Tiba-tiba di bagian akhir penulis menyebut kata dia.
Siapakah dia? Bukankah penulis bercerita tentang dirinya sendiri?
Ini bait terpenting. Bait utama.
Kata dia bisa saja berarti sesuatu yang luas, bukan hanya mewakili seseorang.
Kalimat Mati Rasa juga ia cetak tebal, selain dijadikan sebagai judul.
Saya hentikan membedah puisinya sampai di sini saja…

Saya sengaja tidak menarik kesimpulan dari bedah puisi ini.
Karena memang belum sepenuhnya selesai dibedah.

Akan lebih menarik jika membiarkan poin penting tetap menjadi misteri.
Membuat diri saya sendiri semakin penasaran akan makna puisi tersebut.
Dan bertanya-tanya, sampai diberikan jawabannya oleh sang penulis sendiri.

—————————

Dear Tania, sesuai janjimu semalam, aku tunggu ya penjelasan dari kamu tentang puisimu ini.
Aku tunggu kamu sampai pulang ke Indonesia. :)

Butterflyeskimo,
PancaSyah

postscriptum: master puisi “Mati Rasa” bisa dilihat di sini.

Advertisements

About pancasyah
There will be the time I've been the person you want to talk with, but end up being the person you want to talk about. | An introverted expressionist.

2 Responses to Bedah “Mati Rasa”

  1. tania. says:

    puisi dapat dipahami dengan universal. beda orang yang membaca beda pehamahaman.. jd klo kamu membedah puisi sesuai dengan jalan pikiran mu, berarti begitulah kamu menilai seseorang, :) versi aslinya nanti pas pulang ke indonesia :D oke! hihii

    • pancasyah says:

      So true. Makanya aku gak bedah seluruhnya. :D
      Soalnya jalan pikiranku acak-acakan, nanti hasilnya penilaian aku terhadap penulisnya jg acak-acakan. :p

      Yeap yeap! Awaiting for you hereee~ *hugs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: